Thursday, 25 January 2024

Kebijakan Anti-SLAPP Dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup di Indonesia

Hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat telah diakui secara universal oleh Perserikatan Bangsa Bangsa sebagai salah satu hak asasi manusia. Lebih dari 100 negara menjamin warganya hak konstitusional atas lingkungan yang sehat. Semua orang mempunyai kepentingan dalam melindungi lingkungan dan memastikan penghormatan terhadap hak-hak lingkungan. Pembela lingkungan seringkali merupakan warga negara biasa yang menjalankan haknya.

Banyak pembela lingkungan terlibat dalam aktivitas mereka karena kebutuhan belaka; beberapa dari mereka bahkan tidak melihat atau menganggap dirinya sebagai lingkungan atau pembela hak asasi manusia.

PBB mendefinisikan pembela hak asasi manusia lingkungan hidup sebagai “individu dan kelompok yang, dalam kapasitas pribadi atau profesionalnya dan dengan cara yang damai, berupaya melindungi dan memajukan hak asasi manusia yang berkaitan dengan lingkungan, termasuk air, udara, tanah, flora dan fauna”.

Pembela lingkungan hidup masih sangat rentan dan diserang di seluruh dunia. Di seluruh dunia , pembela lingkungan hidup menghadapi peningkatan penyerangan dan pembunuhan – bersamaan dengan meningkatnya intimidasi, pelecehan, stigmatisasi, dan kriminalisasi.

Setidaknya  tiga orang setiap minggunya  terbunuh karena melindungi hak-hak lingkungan kita – sementara lebih banyak lagi yang dilecehkan, diintimidasi, dikriminalisasi, dan dipaksa meninggalkan tanah mereka.

Pada bulan Juli 2017, statistik dirilis oleh Global Witness mengungkapkan bahwa rata-rata tiga pembela lingkungan dibunuh setiap minggunya. Sekitar 40-50% dari seluruh korban berasal dari masyarakat adat dan lokal yang membela hak mereka tanah, dan akses mereka terhadap sumber daya alam yang menjadi sandaran komunitas mereka untuk bertahan hidup dan penghidupan.

Perempuan pembela lingkungan hidup adalah kelompok yang paling rentan. Faktanya, segala bentuk diskriminasi dapat mengarah pada penargetan atau kerentanan terhadap kekerasan terhadap perempuan pembela hak asasi manusia, yang rentan terhadap berbagai bentuk diskriminasi, yang diperburuk atau saling bersilangan.

Warga negara dapat memainkan peran integral dalam melindungi lingkungan dan menegakkan integritas hukum lingkungan. Di banyak negara, pemerintah memberikan kekuasaan yang lebih besar kepada warga negara dan organisasi non-pemerintah untuk mengajukan litigasi lingkungan hidup terhadap pemerintah dan pihak swasta guna melindungi kepentingan masyarakat terhadap lingkungan yang sehat.

Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2023 tentang Pedoman Mengadili Perkara Lingkungan Hidup.



Monday, 15 January 2024

Mengenal Pencemaran Timbal (Lead)

Timbal (Lead). Logam berat ini digunakan dalam barang-barang seperti cat, aki mobil, rempah-rempah, keramik, amunisi dan barbel. Namun, timbal dapat merusak ekosistem dan menyebabkan masalah kesehatan yang serius pada manusia, termasuk masalah neurologis dan kerusakan ginjal. Timbal juga dapat masuk ke rantai makanan dan terakumulasi di dalam organisme.

Benar atau salah? Tidak ada tingkat paparan timbal yang dianggap aman.
BENAR. Timbal menumpuk di tubuh manusia seiring berjalannya waktu – sebuah proses yang disebut bioakumulasi. Bahkan pada tingkat yang rendah, paparan timbal dapat menyebabkan masalah neurologis dan perilaku yang tidak dapat diperbaiki. Paparan timbal pada masa kanak-kanak dapat mengakibatkan anemia, hipertensi dan kerusakan ginjal serta penurunan IQ, pemendekan rentang perhatian, peningkatan perilaku antisosial dan kinerja buruk di sekolah.

Benar atau salah? Timbal dalam cat merupakan sumber utama paparan pada anak-anak.

BENAR. Ketika cat bertimbal digunakan di rumah, gedung, sekolah, dan taman bermain, anak-anak dapat menghirup partikel debu cat bertimbal atau menyentuh dan menelan cat berkapur, retak, atau lembap. Anak-anak sangat rentan karena tubuh mereka yang sedang dalam masa pertumbuhan menyerap timbal empat hingga lima kali lebih banyak dibandingkan orang dewasa, dan otak serta sistem saraf mereka lebih sensitif terhadap efek berbahaya timbal.

Benar atau salah? Saya tinggal di negara yang melarang cat bertimbal, jadi saya tidak perlu khawatir anak saya berisiko terpapar timbal.
SALAH. Anak-anak mungkin terpapar melalui mulut, bermain, atau secara tidak sengaja menelan mainan, perhiasan, keramik, atau kosmetik yang mengandung timbal. Bahan kimia dalam produk, termasuk mainan, elektronik, dan bahan bangunan, merupakan salah satu bidang fokus proyek Fasilitas Lingkungan Global dan Pendekatan Strategis untuk Manajemen Bahan Kimia Internasional. Anak-anak juga mungkin terkena lapisan cat lama yang masih mengandung timbal.

Benar atau salah? Dampak ekonomi dari paparan timbal pada masa kanak-kanak tidak signifikan.
SALAH. Paparan timbal pada anak-anak menurunkan IQ dan, akibatnya, potensi penghasilan seumur hidup. Pada tahun 2008 saja, total perkiraan kerugian akibat paparan timbal pada masa kanak-kanak di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah berkisar antara US$728,6 miliar hingga US$1,16 triliun. 

Benar atau salah? Hampir separuh negara mempunyai undang-undang cat yang mengandung timbal.
BENAR. Antara tahun 2012 dan 2023, jumlah negara yang memiliki kontrol yang mengikat secara hukum atas cat bertimbal meningkat dari 52 menjadi 93. Menetapkan batasan hukum untuk timbal dalam cat dapat melindungi masyarakat – termasuk anak-anak – dari paparan logam berat yang berbahaya. Untuk merancang undang-undang, banyak negara mengacu pada serangkaian pedoman yang dikembangkan oleh Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) untuk mendukung Aliansi Global untuk Menghilangkan Cat Bertimbal.
Namun, lebih dari 100 negara belum memiliki undang-undang yang mengatur mengenai timbal dalam cat, terutama negara-negara berpendapatan rendah dan menengah di Asia Tengah, Kaukus, dan Eropa Timur. Bahkan di negara-negara yang melarang timbal, timbal masih ada dalam cat sebagai bahan kimia warisan.

Sumber: https://www.unep.org/news-and-stories/story/quiz-how-much-do-you-know-about-lead-poisoning

 


 

 

 

Saturday, 13 January 2024

Peranan Masyarakat Adat Mului Dalam Pengelolaan Lingkungan - Kliping Berita

Masyarakat adat telah diakui memiliki peranan dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup serta mengatasi perubahan iklim. 

Contohnya masyarakat hukum adat Mului di pedalaman Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Komunitas itu sudah diakui sebagai masyarakat adat pada 2018, atau yang pertama diakui pemerintah di Kaltim. Dengan total penduduk 123 jiwa, warga mengelola hutan adat seluas 7.722 hektar. Dari hutan yang terjaga, kebutuhan dasar warga dapat terpenuhi. Air diambil dari sungai yang jernih. Kebutuhan pangan didapat dari ladang dan hutan. Asupan gula dari madu hutan dan kebutuhan protein hewani dari berburu dan menjala ikan. Saat bertani, mereka juga bersahabat dengan alam. Tidak ada pupuk kimia disebar di sana. Dengan sistem ladang berpindah, warga membuka lahan dengan dibakar. Sisa pembakaran itu yang diper caya menyuburkan tanah. Setelah panen, mereka akan berpindah ke lahan lain. Hal itu dilakukan sembari menunggu lahan lama meremajakan diri. Tandanya, tumbuh rerumputan dan pohon-pohon liar kecil. Ketika membangun rumah, mereka mengambilnya dari pohon di sekitar hutan adat. Warga ketat membatasi penebangan pohon untuk kebutuhan sehari-hari. Semua harus sesuai kesepakatan adat. Pohon berdiameter kurang dari 60 sentimeter, misalnya, tidak boleh ditebang. Kayu khas penting sangat dijaga, seperti ulin, meranti, kapur, ruwali, rungur, jelutung, sungkai, bajur, dan mayas. Dengan semua perlakuan itu, mereka menjaga alam tetap asri tanpa takut kelaparan. (Kompas, 16 Desember 2023)


Sayangnya, sebagian dari warga adat masih kesulitan mengakses layanan dasar, seperti kesehatan, pendidikan, hingga infrastruktur. 

Akan tetapi, kontribusi menjaga hutan itu tetap saja tidak cukup. Perlakuan ramah mereka pada alam belum sebanding dengan hak warga mendapatkan kemudahan hidup di masa sekarang. Warga Mului, misalnya, masih kesulitan mengakses beragam akses publik. Jalan ke kampung masih terjal, becek, dan berbatu. Untuk menuju pusat kecamatan, tempat layanan dasar berada, mereka mesti menghabiskan waktu tiga jam menggunakan sepeda motor. Hal itu membuat warga kesulitan. Lianto Mahesa Dani (21), yang menikah dengan warga Mului dan menetap di kampung tersebut, merasakan keterbatasan itu. Saat Umi (23), istrinya, hendak melahirkan beberapa bulan lalu, ia mesti menjemput bidan dengan sepeda motor ke pusat kecamatan. Itu satu-satunya cara yang bisa dia lakukan. Tidak ada sinyal telepon dan internet di kampung itu. ”Untung bayi dan ibunya sehat, jadi enggak perlu dibawa ke rumah sakit,” kata pria yang akrab disapa Dani itu, Selasa (21/11/2023). Dani termasuk beruntung. Beberapa tahun lalu, warga kampung berduka. Seorang warga Mului yang didera sakit dengan gejala malaria meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit. Beberapa warga juga belum menerapkan sanitasi yang baik di rumahnya. Mereka masih terbiasa mencuci piring di dapur. Sisa makanan dibuang begitu saja di sekitar dapur yang masih berupa rumah panggung. Akibatnya, sisa makanan dan air menggenang. Baunya mengundang satwa liar men- dekati rumah. Tidak heran, warga kerap menemukan ular di dapur mereka. Kondisi itu juga berpotensi membuat bakteri berkembang di sekitar rumah. Dapur menjadi bau dengan aroma sisa makanan yang membusuk. Mereka butuh semacam pendampingan untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Hal itu juga menjadi tantangan bagi warga Mului yang ingin mengembangkan wisata alam khusus di hutan adat. Belum ada rumah warga yang bisa dijadikan tempat menginap dengan nyaman untuk tamu dari luar kampung. ”Selama ini, kalau ada tamu banyak, mereka tinggal di rumah singgah. Di sana ada dua kamar,” ucap Jahan (55), warga Mului. Rumah singgah kayu itu dibangun dari dana pemerintah daerah setempatUntuk akses pendidikan juga memprihatinkan. Mului hanya punya satu sekolah dasar (SD). Sekolah setingkat sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) hanya ada di pusat kecamatan. Akibatnya, angka putus sekolah pun tinggi. Perhimpunan Padi Indonesia yang mendampingi warga Mului mencatat, pada 2020 ada 73 tidak tamat SD, enam tamat SMP, dan tak ada yang tamat SMA. Baru ada satu lulusan SMA di kampung itu pada tahun 2023. (Kompas, 16 Desember 2023)

Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kaltim Saiduani Nyuk mengatakan, banyak masyarakat adat lain di Kaltim bernasib serupa. Mereka berkontribusi mempertahankan hutan, tetapi tak kunjung diberi perlindungan hukum berupa pengakuan. Banyak di antara komunitas adat itu juga sulit mendapat akses layanan dasar. Padahal, masyarakat Mului dan masyarakat adat lain punya andil dalam prestasi Kaltim memperoleh dana perdagangan karbon. Sejak awal tahun 2023, Pemprov Kaltim mengumumkan mendapat dana dalam program Forest Carbon Partnership Facility Carbon Fund (FCPF-CF). Program ini diinisiasi sejak 13 tahun lalu dan merupakan bagian kontrak dari Bank Dunia. Pemprov Kaltim mencatat, dana yang diterima Rp 69,15 miliar sebagai pembayaran di muka dari total 110 juta dollar AS (setara Rp 1,7 triliun, kurs Rp 15.633 per dollar AS). Total nilai itu setara anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) perubahan satu kabupaten di Kaltim. Komunitas adat yang tergabung di AMAN Kaltim ada 77 komunitas adat. Di luar itu, ada banyak komunitas adat yang belum teridentifikasi dan terdata. Padahal, banyak di antara mereka yang terlibat konflik dengan perusahaan demi mempertahankan hutan adat yang belum diakui pemerintah. ”Seharusnya mereka juga bisa menikmati dana karbon yang diterima Kaltim untuk layanan dasar mereka dan perlindungan ruang hidup,” kata Saiduani. (Kompas, 16 Desember 2023)

Sumber: https://www.kompas.id/baca/nusantara/2023/12/12/masyarakat-adat-penjaga-hutan-yang-sulit-akses-layanan-dasar


 

 


Perubahan Iklim - COP 28


Friday, 17 November 2023

Menyoal Ilusi Dana "Biaya Kompensasi" Dalam Kasus Proyek Rempang

Proyek Rempang, yang belum memiliki Sertifikat Hak Pengelolaan Lahan, FAKTAnya sudah memaksa warga Rempang untuk meninggalkan tempat tinggalnya paling lambat tanggal 20 September 2023. 

Bahkan Badan Pengusahaan (BP) Batam telah mengeluarkan pernyataan kepada masyarakat Rempang, bahwa Pulau Rempang wajib dikosongkan pada tanggal 28 September 2023.



Padahal menurut siaran pers Ombudsman:

Hasil dari investigasi Ombudsman, warga tetap menolak relokasi yang dilakukan oleh BP Batam. “Warga sudah turun temurun berada di Pulau Rempang, selain itu juga tidak adanya jaminan terhadap mata pencaharian warga,” terang Johanes.
Temuan lain, Johanes mengatakan bahwa belum ada dasar hukum terkait ketersediaan anggaran baik itu terkait pemberian kompensasi dan program secara keseluruhan. “Berdasarkan keterangan dari BP Batam, terkait dengan pemberian kompensasi berupa rumah pengganti maupun uang tunggu dan hunian sementara bagi warga terdampak, memerlukan dasar hukum agar program berjalan,” ucapnya.
Selain itu, Ombudsman juga menemukan bahwa Pemkot Batam belum menetapkan batas seluruh perkampungan tua di Batam.

Anehnya, menurut Kepala Biro Humas, Promosi, dan Protokol BP Batam Ariastuty Sirait mengatakan, 317 keluarga telah mendaftar pindah ke hunian sementara. Selagi menunggu pembangunan kawasan realokasi, warga disediakan rumah singgah. Selain itu, ada uang kompensasi berupa uang tunggu Rp 1,2 juta per kepala dan uang sewa rumah Rp 1,2 juta per keluarga (Kompas). 

Tidak tahu darimana anggaran kompensasi tersebut berasal. 

Bahkan BP Batam yang baru mengajukan dana ke kementerian, sudah berani menyatakan, bahwa besaran alokasi dana untuk kompensasi dari uang negara sebesar 1,6 Triliun. Padahal besaran tersebut barulah besaran yang diajukan kepada kementerian keuangan, dan belum disetujui.

Berita tertanggal 15 September tersebut tentu berbeda dengan hasil pemeriksaan Ombudsman, yang disampaikan dalam konferensi pers Ombudsman, Rabu 27 September Tahun 2023, di Kantor Ombudsman RI, Jakarta Selatan.

Tragisnya, berdasarkan keterangan Polres Barelang, saat ini sebanyak 35 orang telah ditetapkan sebagai tersangka terkait peristiwa kericuhan unjuk rasa di Kantor BP Batam pada tanggal 11 September 2023. 

Warga yang memiliki HAK atas tempat tinggalnya bernasib pahit harus mendekam di tahanan akibat dari tindakannya untuk memperjuangkan tempat tinggalnya. Warga pada dasarnya telah menolak relokasi yang dipaksakan oleh BP batam paling lambat tanggal 20 September 2023.

Terkait adanya penahanan warga, Ombudsman secara tegas meminta agar warga dibebaskan. “Kami meminta Kepolisian Resor Barelang segera membebaskan atau memberikan penangguhan penahanan bagi warga yang masih ditahan sesuai ketentuan,” ucap Johanes. Ombudsman menangkap adanya keluhan warga atas hadirnya kepolisian saat sosialisasi. “Berdasarkan keterangan warga Pulau Rempang, adanya kehadiran aparat keamanan yang bersenjata lengkap berdampak kepada tekanan psikis dan rasa khawatir warga,” terang Johanes.




Menyoal Legalitas Tindakan "Relokasi/ Penggeseran/ Pengusiran" Warga Dalam Kasus Proyek Rempang

Proyek Rempang, diketahui belum memiliki Sertifikat Hak Pengelolaan Lahan. Menurut siaran berita Ombudsman

Anggota Ombudsman RI, Johanes Widijantoro menyampaikan temuan sementara atas tindak lanjut penanganan masalah Rempang Eco City. Ombudsman menemukan bahwa sertifikat Hak Pengelolaan Lahan (HPL) Pulau Rempang atas nama Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam (BP Batam) belum diterbitkan. “Hak Pengelolaan yang dimohonkan pihak BP Batam belum diterbitkan dengan alasan lahan belum clean and clear karena masih dikuasai oleh masyarakat. Surat Keputusan Pemberian Hak Pengelolaan untuk lahan Area Penggunaan Lain (APL) telah terbit dari Menteri ATR/KBPN tertanggal 31 Maret 2023 dan akan berakhir pada tanggal 30 September 2023. Meskipun dapat diperpanjang dengan persetujuan Menteri ATR/BPN berdasarkan permohonan BP Batam,” terang Johanes dalam konferensi pers, Rabu (27/9/2023) di Kantor Ombudsman RI, Jakarta Selatan.


 

Namun Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam (BP Batam) sudah memaksa warga Rempang untuk melakukan meninggalkan tempat tinggalnya paling lambat tanggal 20 September 2023. Bahkan Badan Pengusahaan (BP) Batam telah mengeluarkan pernyataan kepada masyarakat Rempang, bahwa Pulau Rempang wajib dikosongkan pada tanggal 28 September 2023.


Hasil dari investigasi Ombudsman, warga tetap menolak relokasi yang dilakukan oleh BP Batam. “Warga sudah turun temurun berada di Pulau Rempang, selain itu juga tidak adanya jaminan terhadap mata pencaharian warga,” terang Johanes.


Temuan lain, Johanes mengatakan bahwa belum ada dasar hukum terkait ketersediaan anggaran baik itu terkait pemberian kompensasi dan program secara keseluruhan. “Berdasarkan keterangan dari BP Batam, terkait dengan pemberian kompensasi berupa rumah pengganti maupun uang tunggu dan hunian sementara bagi warga terdampak, memerlukan dasar hukum agar program berjalan,” ucapnya.
Selain itu, Ombudsman juga menemukan bahwa Pemkot Batam belum menetapkan batas seluruh perkampungan tua di Batam.
Pada proses pengamanan dan penegakan hukum kepolisian, Johanes mengungkapkan, berdasarkan keterangan Polres Barelang, saat ini sebanyak 35 orang telah ditetapkan sebagai tersangka terkait peristiwa kericuhan unjuk rasa di Kantor BP Batam pada tanggal 11 September 2023. Terkait adanya penahanan warga, Ombudsman secara tegas meminta agar warga dibebaskan. “Kami meminta Kepolisian Resor Barelang segera membebaskan atau memberikan penangguhan penahanan bagi warga yang masih ditahan sesuai ketentuan,” ucap Johanes.
Ombudsman menangkap adanya keluhan warga atas hadirnya kepolisian saat sosialisasi. “Berdasarkan keterangan warga Pulau Rempang, adanya kehadiran aparat keamanan yang bersenjata lengkap berdampak kepada tekanan psikis dan rasa khawatir warga,” terang Johanes.



Menyoal Legalitas Sertifikat Hak Pengelolaan Lahan untuk Proyek Rempang


Menurut siaran berita Ombudsman

Anggota Ombudsman RI, Johanes Widijantoro menyampaikan temuan sementara atas tindak lanjut penanganan masalah Rempang Eco City. Ombudsman menemukan bahwa sertifikat Hak Pengelolaan Lahan (HPL) Pulau Rempang atas nama Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam (BP Batam) belum diterbitkan.


 

Selain itu, diketahui Proyek Rempang belum memiliki Persetujuan Lingkungan dan DOkumen Lingkungan berupa AMDAL.

 

Meskipun tidak memiliki Sertifikat HPL serta Amdal, namun Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam (BP Batam) sudah memaksa warga Rempang untuk melakukan meninggalkan tempat tinggalnya paling lambat tanggal 20 September 2023. Bahkan Badan Pengusahaan (BP) Batam telah mengeluarkan pernyataan kepada masyarakat Rempang, bahwa Pulau Rempang wajib dikosongkan pada tanggal 28 September 2023.

Hasil dari investigasi Ombudsman, warga tetap menolak relokasi yang dilakukan oleh BP Batam. “Warga sudah turun temurun berada di Pulau Rempang, selain itu juga tidak adanya jaminan terhadap mata pencaharian warga,” terang Johanes.

ironisnya, berdasarkan keterangan Polres Barelang, saat ini sebanyak 35 orang telah ditetapkan sebagai tersangka terkait peristiwa kericuhan unjuk rasa di Kantor BP Batam pada tanggal 11 September 2023.

Thursday, 12 October 2023

REMPANG dan Mandalika - Mengingat Siaran Pers PBB tentang Ancaman Pelanggaran HAM di Proyek Mandalika

Kasus Rempang, mengingatkan kembali pada kasus Proyek Sirkuit Mandalika. Dimana pada tahun 2021, Pakar PBB telah mengingatkan adanya ancaman pelanggaran HAM di proyek mandalika melalui pemaksaan dan penggusuran masyarakat untuk pembangunan proyek Mandalika.

Karenanya Pakar PBB untuk Hak Asasi Manusia hari ini mendesak Pemerintah Indonesia untuk menghormati Hak Asasi Manusia dan hukum yang berlaku dengan adanya laporan bahwa proyek pariwisata senilai USD 3 miliar di pulau Lombok telah menimbulkan perampasan tanah yang agresif, penggusuran paksa terhadap Masyarakat Adat Sasak, dan intimidasi serta ancaman terhadap pembela hak asasi manusia. 

Pakar PBB untuk Hak Asasi Manusia bahkan mengingatkan, bahwa sudah bukan jamannya lagi untuk mendirikan sirkuit balap dan proyek infrastruktur pariwisata transnasional besar-besaran yang hanya menguntungkan segelintir pelaku ekonomi alih-alih bermanfaat bagi populasi masyarakat secara keseluruhan.

Dalam siaran persnya, Pakar PBB mempersoalkan proyek mandalika yang sebagian dibiayai oleh Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) dan telah mendapatkan investasi lebih dari USD 1 miliar daripebisnis swasta. Grup asal Prancis yaitu VINCI Construction Grands Projets merupakan investor terbesar yang akan bertanggung jawab atas pembangunan Sirkuit Mandalika, hotel, rumah sakit, water park, dan fasilitas lainnya. Para pakar juga mengkritik kurangnya uji tuntas (due diligence) oleh AIIB dan perusahaan swasta untuk mengidentifikasi, mencegah, memitigasi, dan mempertanggungjawabkan dampak buruk terhadap hak asasi manusia, sebagaimana diatur dalam UN Guiding Principles (Prinsip Panduan PBB) mengenai bisnis dan hak asasi manusia.

Ironisnya, sampai dengan saat ini (Oktober 2023), meskipun pembangunan telah selesai selama dua tahun, namun diketahui proses pembayaran ganti rugi lahan milik masyarakat masih belum selesai. Wajarlah apabila Pemilik lahan yang digunakan sirkuit Mandalika mengancam akan memblokade jalan menuju sirkuit mandalika saat ajang Motogp pada 13 oktober 2021. (Lihat berita disini)

Lihat siaran pers PBB secara lengkap disini.

Mungkin patut dipertimbangkan, oleh para pembela hak masyarakat Rempang untuk menghubungi pakar HAM PBB untuk membantu perjuangannya.

Para pakar: Mr. Olivier De Schutter, Pelapor Khusus untuk kemiskinan ekstrim dan hak asasi
manusia; Francisco Cali Tzay, Pelapor Khusus untuk hak-hak masyarakat adat; Ms. Mary
Lawlor, Pelapor Khusus untuk situasi pembela hak asasi manusia; Mr. Obiora Okafor, Pakar
Independen untuk hak asasi manusia dan solidaritas internasional; Mr. Balakrishnan Rajagopal,
Pelapor Khusus untuk perumahan yang layak sebagai komponen dari hak atas standar hidup
layak, dan hak non-diskriminasi dalam konteks tersebut; Mr. Livingstone Sewanyana, Pakar
Independen untuk mendorong tatanan internasional yang demokratis dan adil; Kelompok Kerja
PBB untuk Hak Asasi Manusia dan perusahaan transnasional serta perusahaan bisnis lainnya
(dikenal sebagai Kelompok Kerja Bisnis dan Hak Asasi Manusia): Mr. Dante Pesce (Ketua), Mr.
Surya Deva (Wakil Ketua), Ms. Elżbieta Karska, Mr. Githu Muigai, dan Ms. Anita Ramasastry
Para Special Rapporteur (Pelapor Khusus), Independent Experts (Pakar Independen) dan
Working Group (Kelompok Kerja) adalah bagian dari Special Procedures (Prosedur
Khusus) dari Human Rights Council (Dewan Hak Asasi Manusia). Special Procedures,
yaitu badan ahli independen terbesar dalam sistem Hak Asasi Manusia PBB, adalah nama
umum dari mekanisme pemantauan dan pencarian fakta independen Council yang
menangani situasi negara tertentu atau masalah tematik di seluruh bagian dunia. Para
pakar Special Procedures bekerja secara sukarela; mereka bukan staf PBB dan tidak
menerima gaji untuk pekerjaan mereka. Mereka bekerja secara independen dari
pemerintah atau organisasi mana pun dan melayani dalam kapasitas individu mereka.
UN Human Rights, Halaman Negara – Indonesia
Untuk informasi lebih lanjut dan permintaan media, silakan hubungi: Junko Tadaki (+41 22 917
9298 / jtadaki@ohchr.org) dan Isabelle Delforge (+32 498 522 163 /
isabelle.delforge@srpoverty.org).
Untuk pertanyaan media mengenai pakar independen UN lainnya, silakan hubungi Renato de
Souza (+41 22 928 9855 / rrosariodesouza@ohchr.org)
Ikuti berita terkait pakar hak asasi manusia independen UN di Twitter @UN_SPExperts.
Khawatir terhadap dunia yang kita tinggali?
PERJUANGKAN hak-hak sesama sekarang juga.
#Standup4humanrights
kunjungi situs web http://www.standup4humanrights.org

Saturday, 7 October 2023

Urgensi Menghilangkan Kandungan Timbal Pada Cat

Timbal (Pb) adalah unsur logam alami, dimana jejak konsentrasi dapat ditemukan nyaris di semua media yang ada di lingkungan dan semua makhluk hidup yang ada di sekitar kita. Namun, peningkatan kadar Pb di lingkungan cenderung meningkat akibat aktivitas manusia tertentu, terutama penambangan dan peleburan logam tidak mulia; pembakaran bensin bertimbal; penggunaan Pb dalam berburu, menembak sasaran, dan memancing rekreasi; penggunaan cat berbahan dasar Pb; dan pembuangan produk yang mengandung Pb secara tidak terkendali seperti baterai kendaraan tua dan perangkat elektronik. Peningkatan konsentrasi Timbal telah menimbulkan risiko paparan dan toksisitas Pb pada invertebrata, ikan, dan satwa liar di beberapa ekosistem.

Timbal adalah logam beracun yang penggunaannya secara luas telah menyebabkan pencemaran lingkungan yang luas dan masalah kesehatan di banyak bagian dunia. Ini adalah racun kumulatif yang mempengaruhi beberapa sistem tubuh, termasuk sistem neurologis, hematologi, gastrointestinal, kardiovaskular dan ginjal. Anak-anak sangat rentan terhadap efek neurotoksik timbal, dan bahkan tingkat paparan yang relatif rendah dapat menyebabkan kerusakan saraf yang serius dan, dalam beberapa kasus, ireversibel.

Mengingat dampak besarnya pada kesehatan, termasuk dampak pribadi, sosial dan ekonomi yang bersamaan, karenanya timbal diidentifikasi sebagai salah satu dari 10 bahan kimia yang menjadi perhatian utama kesehatan masyarakat secara global (Organisasi Kesehatan Dunia/ WHO, 2019).

Paparan timbal menyebabkan beban penyakit yang signifikan: Institute for Health Metrics and Evaluation memperkirakan bahwa pada tahun 2017, paparan timbal menyumbang 1,06 juta kematian dan 24,4 juta tahun hidup yang disesuaikan dengan kecacatan (DALYs*) karena efek jangka panjang pada kesehatan. 

Pada manusia, sumber utama pencemaran timbal biasanya bersumber dari timbal cat dan air minum yang dibawa melalui pipa timah. Cat berbahan dasar timbal sangat berbahaya bagi anak-anak yang mengunyah mainan dan perabotan yang dicat dan memakan cat yang terkelupas dari dinding. Industri di mana pekerja menghadapi padatan, debu, atau asap yang mengandung timbal termasuk industri perminyakan, pertambangan dan peleburan, percetakan, pembuatan peralatan makan dan penyimpanan baterai, pipa ledeng dan pemasangan gas, pembuatan cat dan pigmen, dan pembuatan keramik, kaca, dan amunisi. Kemungkinan sumber keracunan timbal lainnya termasuk penggunaan insektisida pertanian mengandung senyawa timbal; penyemprotan buah dan sayuran dapat mempengaruhi pekerja dan, pada akhirnya, konsumen.

Keracunan timbal juga dapat terjadi pada hewan. Ini sering mempengaruhi hewan peliharaan rumah tangga, terutama anjing dan burung; hewan ternak, termasuk sapi, domba, unggas, dan kuda; dan hewan liar, seperti hewan pengerat, unggas air, dan burung raptor. Mirip dengan manusia, keracunan timbal pada hewan cenderung melalui paparan produk yang mengandung timbal, terutama serpihan cat dan minyak, baterai, dan lemak yang dibuang secara tidak benar. Unggas air, seperti angsa dan bebek, kadang-kadang menelan pemberat ikan dan peluru timbal, dan burung raptor mungkin memangsa hewan pengerat yang terkontaminasi timbal. Menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), keracunan timbal merupakan ancaman khusus bagi Elang laut laysan (Laysan albatross), populasi besar yang bersarang Midway Atoll, tempat mereka menelan serpihan cat timbal.

Pada tahun 2021, penggunaan timbal dalam bahan bakar secara global secara resmi berakhir, yang merupakan hasil lobi selama beberapa dekade oleh Kemitraan  untuk Bahan Bakar dan Kendaraan Bersih yang didukung UNEP. Penghapusan timbal dari bahan bakar secara bertahap dapat menyelamatkan sekitar 1,2 juta nyawa setiap tahunnya.

Saat ini, kandungan Timbal dalam cat merupakan sumber utama terjadinya paparan pencemaran timbal. Hal ini sering ditambahkan ke cat interior dan eksterior yang digunakan di rumah, sekolah dan bangunan lainnya, serta pada furnitur, taman bermain dan mainan, untuk mempercepat pengeringan, meningkatkan daya tahan dan meningkatkan sifat visual.

Sudah semakin banyak negara yang menolak penggunaan timbal pada Cat. Antara tahun 2012 dan 2023, jumlah negara yang memiliki kontrol yang mengikat secara hukum terhadap cat timbal meningkat menjadi  93 dari 52 negara. Pergeseran ini didukung oleh Aliansi Global untuk Menghilangkan Timbal Cat , yang dipimpin oleh UNEP dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Aliansi ini mendukung negara-negara dalam membuat undang-undang mengenai timbal dalam pengendalian cat, termasuk dengan mempromosikan model hukum yang dapat diambil oleh negara-negara ketika menyusun peraturan terkait timbal.

Bahkan di negara-negara maju yang sudah menerapkan pelarangan, timbal tetap menimbulkan bahaya karena merupakan bahan kimia yang banyak ditemukan pada bangunan dan produk-produk tua.

Saat ini Produk cat yang mengandung timbal masih beredar luas di Indonesia. Cat dengan kandungan timbal tinggi masih digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk memperindah tempat bermain anak. 

Dalam kurun 2012-2013, BaliFokus membeli 78 kaleng cat dekoratif enamel dan mengujikan kadar timbal di dalamnya. Laporan berjudul “Timbal dalam Cat Enamel Rumah Tangga di Indonesia” yang disusun oleh BaliFokus dengan dukungan dari Asian Lead Paint Elimination Project menemukan, bahwa lebih dari tiga perempat sampel (77% atau 60 sampel) memiliki kadar timbal di atas 90 bagian per juta (ppm). 

Penelitian BaliFokus pada 2015 menunjukkan, 83 persen dari 121 sampel cat enamel yang diuji mengandung timbal dengan konsentrasi membahayakan atau lebih besar daripada 90 ppm (standar WHO). Jika memakai standar SNI, 78 persen sampel tak memenuhi standar atau mengandung timbal di atas 600 ppm.

Menurut Laporan Nasional Timbal dalam Peralatan Bermain di Jakarta yang dikeluarkan Nexus3 pada 2019 menunjukkan, 81 dari 115 permukaan fasilitas permainan yang dicat warna cerah mengandung konsentrasi timbal di atas 90 ppm. Bahkan ada alat permainan yang memiliki kadar timbal di atas 4.000 ppm.

Umumnya, anak tidak terpapar timbal dari cat ketika cat masih di dalam kaleng ataupun saat cat baru dioleskan. Paparan timbal umumnya terjadi lama setelah cat bertimbal mengering pada kusen, pagar atau permukaan lain yang dicat. Permukaan yang dicat akan lapuk karena usia dan cuaca. Timbal yang terdapat dalam cat lalu masuk ke debu dan tanah baik di dalam ruangan maupun di sekitar rumah atau bangunan. Anak memiliki naluri ingin tahu yang mendorong mereka menjelajahi lingkungan sekitar dan juga memiliki kebiasaan alamiah dalam masa perkembangan yaitu memasukkan tangan ke mulut. Saat bermain di lingkungan yang tercemar timbal, debu dan tanah bertimbal dapat tak sengaja tertelan. Ini khususnya berlaku bagi anak berusia 6 tahun ke bawah. Sebagai gambaran, anak usia 1 sampai 6 tahun umumnya setiap hari menelan sekitar 100 mg debu dan tanah di rumah. Serpihan cat dapat menjadi sangat berbahaya karena kandungan timbalnya bisa jauh lebih tinggi daripada dalam debu dan tanah pada umumnya. Kadang anak dapat mengambil serpihan cat yang terkelupas dan menaruhnya dalam mulut. Selain itu, jika mainan atau benda lain dicat dengan cat bertimbal, cat kering bertimbal dapat tertelan langsung oleh anak yang menggigitnya. Namun, timbal yang tertelan oleh anak umumnya berasal dari debu yang mengandung timbal.

Pembatasan kadar timbal saat ini baru diatur dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) 8011:2014 tentang Cat Dekoratif Berbasis Pelarut Organik dengan standar konsentrasi maksimal 600 bagian per juta (ppm). Itu pun bersifat sukarela sehingga industri masih bisa memasarkan produk cat dengan kadar timbal yang tinggi. Rekomendasi WHO. Batasan standar pada konsentrasi timbal juga jauh diatas batas WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) yakni 90 ppm.


 

Tuesday, 3 October 2023

PANDUAN UIAA MEMBELI PERALATAN PANJAT TEBING (CLIMBING)

UIAA memberikan panduan bagi para pemanjat tebing saat akan membeli peralatan panjat tebing.
  1. Melakukan penelitian menyeluruh atau bacalah sebelum membeli. Pastikan perlengkapan yang Anda beli sesuai dengan jenis aktivitas yang ingin Anda lakukan. Baca terlebih dulu review produk dari sumber independen atau dari website produsen peralatan yang populer digunakan oleh para pemanjat tebing.
  2. Selalu membaca dan memperhatikan peringatan dan petunjuk pabrikan untuk penggunaan, pemeriksaan, pemeliharaan, dan penghentian peralatan. Untuk poin terakhir ini, jika ragu, yang terbaik adalah mengganti peralatan. Informasi penarikan produk dapat dilihat di website UIAA.
  3. Jika memungkinkan, cobalah sebelum membeli. Hal ini sangat penting terutama pada item yang ukurannya pas akan mempengaruhi kemampuan item tersebut dalam melindungi pemanjat seperti helm dan tali pengaman. Perlengkapan pendakian yang tidak pas bisa berbahaya.
  4. Hanya beli peralatan yang memiliki Label Keamanan UIAA dan/ atau label CE. Hal ini memastikan produk tersebut sesuai dengan standar internasional yang paling ketat. Label Keamanan UIAA, atau CE, biasanya dapat ditemukan terukir atau dijahit pada peralatan atau dalam deskripsi produk.
  5. Hindari membeli peralatan secara online kecuali peralatan dari merek terkenal dan terpercaya serta dari produsen terpercaya atau pengecer terkemuka. Artikel khusus dari UIAA dan British Mountaineering Council (BMC) membahas banyak bahaya membeli secara online.
  6. Waspada terhadap produk palsu. Bagi mata yang tidak terlatih, produk palsu mungkin sangat mirip dengan produk bersertifikat sebenarnya. Tampaknya produk bersertifikat yang dijual dengan harga sangat rendah seharusnya menjadi peringatan.
  7. UIAA tidak menganjurkan penggunaan peralatan pendakian bekas/bekas. Barang-barang berikut ini sebaiknya tidak dibeli secara bekas: tali kekang, helm, dan tali.
  8. Catat pembelian peralatan Anda di buku catatan atau online. Ini memastikan Anda selalu memiliki catatan kapan Anda membeli peralatan.
  9. Jika Anda mempunyai keraguan mengenai validitas peralatan, periksalah berdasarkan Basis Data Peralatan Bersertifikat UIAA. Demikian pula jika Anda yakin seseorang menggunakan Label Keamanan UIAA tanpa izin, Anda dapat mengirimkan rinciannya ke UIAA yang akan menambahkan produk ini ke database artikel yang melanggar. Daftar lengkap produsen yang produknya memiliki Label Keamanan UIAA dapat ditemukan di sini.
  10. Mengenai APD (Alat Pelindung Diri) perlu diketahui bahwa peralatan ini mengalami proses penuaan dan harus diganti sesuai pedoman pabrik. Harap dicatat bahwa banyak pengecer tidak menerima pengembalian peralatan APD setelah penjualan.

Catatan: 

UIAA adalah singkatan dari Union Internationale des Associations d'Alpinisme (UIAA), merupakan Federasi Pendakian dan Pendakian Gunung Internasional. Sesuai dengan namanya, UIAA merupakan organisasi internasional yang bertanggung jawab untuk menetapkan standar keselamatan peralatan pendakian dan mengeluarkan sertifikasi keselamatan untuk setiap peralatan. Dimana ahli yang menentukan standar keselamatan terdiri dari orang-orang dari seluruh dunia; memberikan UIAA pandangan yang lebih luas mengenai olahraga ini dan pandangan yang lebih tajam terhadap kebutuhan keselamatan global. Standar keselamatan UIAA adalah yang tertinggi dalam hal perlengkapan pendakian.

CE adalah singkatan dari Conformity Europeenne dan merupakan standar kesesuaian keselamatan Eropa yang ditetapkan oleh Komunitas Ekonomi Eropa untuk menetapkan standar keselamatan bagi produk yang dijual di Uni Eropa. Sederhananya, UIAA adalah organisasi internasional sedangkan EN adalah organisasi Eropa. 

Untuk memenuhi persyaratan mendapatkan CE, maka suatu produk harus mematuhi standar teknis dan/ atau keselamatan EN (singkatan dari Standar Eropa atau Norma Eropa). Ini adalah standar keamanan yang disepakati untuk produk tertentu. Misalnya tali panjat tebing dinamis standar ini ditandai dengan angka 892, dimana angka 892 menunjukkan uji keamanan yang dilalui produk untuk menerima sertifikasi EN.

Sumber: 

https://theuiaa.org/safety/buyingclimbinggear/

https://www.cruxrange.com/blog/climbing-rope-label/